Pendidikan Yahudi pada Perjanjian Lama

Pendidikan dalam bentuk apapun dipelihara oleh generasi muda untuk hidup baik di dalam keluarga maupun di dalam komunitas yang lebih luas. Pendidikan mencakup pelatihan dasar kemampuan untuk bertahan hidup, penanaman nilai-nilai komunitas, dan pewarisan nilai-nilai budaya. Tidak ada garis pemisah antara kehidupan dan pendidikan, juga agama dan pendidikan. Apakah pendidikan secara alami bersifat keagamaan dan apakah agama juga secara alami bersifat pendidikan? Demikianlah halnya yang terjadi pada pendidikan Ibrani dan Yudaisme, pendidikan pada masa tersebut merupakan akar pendidikan Kristen. Bagaimanapun juga, kekristenan berkembang dari Yudaisme. Oleh karena itu, untuk memahami pendidikan Agama Kristen atau pendidikan Kristiani kita harus melihat kembali pendidikan Yahudi. Bagi sejarawan, ada tiga periode utama dalam Alkitab yang perlu ditinjau kembali agar dapat memahami pendidikan Kristen pada jaman Perjanjian Lama. Tiga periode utama tersebut adalah:

a. Periode sebelum pembuangan (pre-exilic)

b. Pendidikan sesudah pembuangan (post-exilic) dari masa perjanjian lama;

c. dan Perjanjian Baru

Banyak sejarawan pendidikan telah berupaya menghimpun berbagai materi atau instrumen pendidikan yang berbeda dari perikop-perikop Alkitab dalam tiga periode ini. Periode pre-exilic sebagian dijelaskan di dalam kitab Ulangan 6, yang menyiratkan pola-pola kehidupan keluarga yang kuat yang memberikan latar belakang utama bagi pemeliharaan (iman). Melalui ritual, penceritaan, dan penafsiran, dan penafasiran di dalam keluarga, diskusi, tanya jawab, dan jawaban, seorang anak Yahudi menyerap makna kehidupan dan orientasi tertentu pada kehidupan yang dibagi bersama keluarga dan teman-teman. Tanpa catatan tertulis, komunikasi dan pengulangan lisan dari tradisi komunitas menjadi media bagi pengajaran. Karena pembuangan berarti suatu gangguan terhadap pola kehidupan keluarga yang stabil dan suatu ketidakpastian mengenai identitas dan masa depan komunitas, pendidikan selama dan setelah waktu itu menjadi semakin kultis sementara kebutuhan akan pentingnya institusi pendidikan lain di samping keluarga, harus dihadapi secara sengaja. Oleh karena itu, perkembangan sinagoga, pusat ibadah, dan pendidikan lokal, mengalami peningkatan signifikan. Dengan kondisi keluarga yang terpisah, tercerai berai, serta terpencar di antara negeri dan kebudayaan asing, pendidikan Yahudi menjadi suatu sarana untuk mengkomunikasikan warisan komunitas yang unik kepada generasi selanjutnya. Semua laki-laki dewasa Yahudi mempelajari Hukum Taurat dan interpretasinya bagi kehidupan mereka di sinagoga-sinagoga. Pada gilirannya, mereka diharapkan memelihara anak mereka di rumahnya masing-masing. Selanjutnya, sekolah bagi anak laki-laki didirikan dengan para rabi yang mengajar bahasa Ibrani, tradisi lisan, dan kitab-kitab tertulis. Apa yang semula diberikan di rumah sekarang dipelajari secara formal di sekolah. Pada dasarnya ini merupakan sebuah tradisi yang didasarkan pada suatu pandangan hidup umat Allah yang berbeda di bawah hukum Allah, dan interpretasi warisan tradisi dari Abraham, Musa, dan Daniel sampai waktu itu. Jadi pendidikan dan agama membentuk kurikulum dasar di rumah sama seperti sekolah. Hal ini pasti merupakan pendidikan yang dialami oleh Yesus sebagai keturunan Yahudi.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s